Sejarah Perkembangan Kurikulum Taman Kanak-Kanak di Indonesia dari Masa Ke Masa (4)
Bab II Perkembangan
Pendidikan Taman Kanak-Kanak
A. Keberadaan TK dari Zaman ke Zaman
1. Zaman Belanda
Pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan prasekolah di Indonesia secara erbatas. Pemerintah Belanda mendirikan lembaga-lembaga pendidikan preasekolah tersebut terbatas untuk mengikuti program pendidikan prasekolah tersebut, yakni hanya mereka yang berketurunan ningrat atau yang bergelar bangsawan.
Kurikulum pendidikan prasekolah yang diberlakukan pada masa itu diimpor dari belanda. Kurikulum tersebut sangat diwarnai oleh pengaruh pendiikan ala Froebel yang sanat menekankan penggunaan bermain dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sebagai media kegiatan belajar anak.
Pendidikan Taman Kanak-Kanak dalam zaman Belanda dikenal sebagai Frobelschool. Pendidikan tersebut didirikan dengan tujuan agar anak dapat melakukan adat baru yang baik; anak-anakpandai membaca, menulis dan berbahasa Belanda dan dengan persiapantersebut anak dapat masuk ke sekolah belanda.
Isi kurikulum dan bahan-bahan pembelajaran menyiratkan tiga bentuk pengetahuan yaitu bentuk-bentuk kehidupan (berkebun), memelihara binatang, dan kegiatan-kegiatan keseharian lainnya. Bentuk-bentuk matematik (bentuk-bentuk goemetrik yang berhubungan satu sama lain alam suatu pola yang membuat permainan balok; dan bentuk-bentuk keindahan (desain) dengan warna dan bentuk keharmonisan dalam musik, serta gerakan-erakan tubuh.
Disamping menerapkan sistem pendidikan Froebel secara dominan hingga akhir masa kekuasaannya, pemerintah Belanda juga memeprkenalkan metode Montessori pada tahun 1938 melalui sekolah-sekolah pendidikan guru TK. Metode pendidikan Montessori menekankan kebebasan yang leoh besar kepada anak untuk mengembangkan gaya individualnya.
Sasaran pendidikannya terutama diarahkan untuk mebantu perkembangan kepribadian anak yang spontan dan membangun rasa kompeten yang berkisar pada pengembangan tujuan-tujan internal perkembagan seperti kemandirian, kepercayaan diri, diisplin dari dalam diri dan kecakapan untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan sendiri.
Berbedda dengan pendekatan Froebel yang memiliki kesematan cukup lama untuk berkembang di Indonesia, pendekatan Montessori hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mempengaruhi praktek-praktek pendidikan prasekolah di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena datangnya masa penjajahan jepang pada tahun 1942.
Pada masa penjajahan Belanda, para guru prasekolah menerima pendidikan di salah satu lembaga berikut yaitu:
• Sekolah Pendidikan Guru Prasekolah (Froebel Kweekschool) atau
• Sekolah pendidikan Kesejahteraan Keluarga (Home-Economics School)
Selain itu ada pula sekolah guru prasekolah lain yang juga merupakan Froebel Kweekschool yang didirikan pada tahun 1925 oleh Asosiasi Kristen. Sekolah ini melatih para pemudi untuk mengajar baik di lembaga pendidikan prasekolah msupun di SD kelas-kelas awal.
Sekolah ini terus berada di dalam pola pendidikan Froebel hingga akhirnya mengadopsi pendekatan Montessori pada tahun 1938. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda ada beberapa upaya inisiatif bangsa Indonesia yang perlu dicatat:
Tahun 1913 Ki Hajar Dewantara (yang bernama asli RM Soewardi Soejaningrat) karena aktivitas politiknya yang semakin mengkhawatirkan pemerintah Belanda, maka beliau diasingkan ke negeri Belanda.
Artikelnya yang berjudul “als ik eens Nederlander was” (Seandainya aku orang Belanda) pada sebuah surat kabar yang dipublikasikan secara luas sangat menyinggung pemerintah Belanda. Dalam artikel ini ia mengungkapkan bahwa seandainya ia orang belanda, ia akan merasa malu karena sementara merayakan hari kemerdekaannya, dan pada saat yang bersamaan Belanda justru menjajah Indonesia.
Untungnya selama di Belanda Ki Hajar Dewantara banyak belajar tentang pendidikan, khususnya pendekatan Froebel dan Montessori. Ia memanfaatkan masa hidupnya di Belanda untuk belajar ilmu jurnalistik dan pendidikan sehingga mendapat akte mengajar pada tahun 1915.
Setelah kembali dari Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan suatu perguruan nasional dengan nama Taman Siswa. Organisasi pendidikan ini mensponsori sekolah-sekolah yang memadukan metode-metode dan isi pendidikan terbaik Eropa dengan budaya terbaik Indonesia. Dengan kata lain sistem pendidikan ini adalah memodifikasi metode Froebel dengan metode Montessori yang disesuaikan dengan adat timur.
Program pendidikan ini ditujukan untuk anak di bawah usia 7 tahun dan didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 mendirikan Taman Lare (anak) atau Taman Anak atau Sekolah Fröbel Nasional atau Kindertuin yang akhirnya disepakati dengan nama Taman Indria (Taman Indra).
Sejalan dengan prinsip-prinsip Froebel dan Montessori, Taman Indria ini memfokuskan arah pendidikannya kepada penajaman keterampilan-keterampilan sensorik anak. Ki Hajar Dewantara (1889-1959) seorang tokoh pendidikan nasional dan pendiri perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922.
Pada sekitar tahun-tahun yang sama, suatu organisasi Islam yang dikenal dengan Persatuan Wanita Aisyiyah juga membangun lembaga pendidikan prasekolah Bustanul Athfal yang pertama. Pembangun Bustanul Athfal ini dimaksudkan untuk meningkatkan sikap nasionalisme dan tujuan-tujuan keagamaan dalam merespon popularitas lembaga-lembaga prasekolah yang berorientasi Eropa.
Selain itu, selama periode pemerintahan kolonial Belanda ini, sejumlah organisasi Islam lainnya dan pesantren juga turut membangun dan merancang program-program prasekolahnya masing[1]masing. Nama Frobelschool diganti dengan nama Taman Kanak-kanak. Pada waktu itu guru-guru belum mengenal kehidupan dan kebutuhan anak yaitu tentang permainan, ketangkasan-ketangkasan seperti yang ada di desa-desa. Pada pendidikan Taman Kanak-Kanak diberikan nyanyian[1]nyanyian, permainan dan cerita Jepang.
Herlina Yuke Indrati (Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta, 2010).


