Mari Muliakan Guru
PAHLAWAN tanpa tanda jasa. Entahlah, apakah semboyan itu masih pantas disematkan pada guru-guru saat ini. Kalau dulu peran guru memang sangat urgen. Pada masa-masa penjajahan, hingga awal-awal kemerdekaan, posisi sebagai guru sangatlah terpuji. Mereka berada pada deretan orang-orang yang memiliki peran penting dalam hirarki sosial masyarakat di republik ini.
Ketika masa-masa itu, para guru memang adalah pejuang. Mereka begitu rela mengorbankan waktu, tenaga dan harta miliknya untuk mencerdaskan anak-anak didiknya. Bahkan mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk memberikan pengetahuan dan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya.
Mereka tidak peduli ditangkap dan men-dapat siksaan dari para penjajah. Mereka tidak peduli apakah kelak mereka akan mendapat bayaran atau tidak. Bahkan mereka tidak peduli apakah mereka dikemudian hari akan dihargai oleh para murid-murid yang mungkin telah menjadi orang yang sukses. Dikenang pun mungkin mereka juga tak mengharapkan.
Tapi itu dulu. Semangat untuk merdeka dan lepas dari kungkungan penjajah mungkin menjadi salah satu sumber kekuatan untuk terus berjuang dan mengabdikan diri bagi generasi penerus cita-cita bangsa. Hampir semua eleman bangsa bersatu untuk terus maju, tidak terkecuali guru.
Bukankah memang bangsa yang maju adalah bangsa yang pendidikannya baik? Tapi pertanyaannya kemudian, apakah masih adakah yang mau peduli untuk menjadi bangsa yang maju? Apakah guru-guru sekarang masih mau peduli untuk menciptakan generasi-generasi yang hadal dan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya?
Melihat guru-guru sekarang, rasanya saya agak ragu mengatakan bahwa mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ataukah ungkapan itu memang tidak layak lagi dengan perkembangan zaman. Ya, mungkin sudah ketinggalan zaman, sehingga mungkin harus diganti dengan ungkapan lain untuk menunjukkan hakikat seorang guru.
Ataukah mungin saja, ungkapan itu tetaplah up to date. Hanya saja kita telah salah dalam melangkah dan memposisikan guru sebagaimana mestinya. Ataukah memang guru sendirilah yang kemudian secara sadar atau tidak, menggerus sendiri hakikat keberadaannya di tengah-tengah hiruk pikuk modernisasi dan kapitalis yang merambati ruang-ruang pendidikan kita.
Entahlah. Yang pasti ketika mendengar kalimat bangsa yang maju adalah bangsa yang pendidikannya baik, saya benar-benar terenyuh. Apakah kita kini bisa menjadi bangsa yang maju dengan kondisi para pendidik dan model pendidikan kita yang telah dirasuki aroma kapitalis yang membuat mereka akan melihat pendidikan dan anak didik dari segi materi semata. Maka jika hal itu benar-benar terjadi, maka pendidikan kita mungkin bukan lagi milik orang-orang miskin. Akan tetapi telah menjadi hak milik orang-orang berpunya.
Jika memang benar kalimat bangsa yang maju adalah bangsa yang pendidikannya baik, maka sangat jelas bahwa peran pendidikan dalam kemajuan sebuah bangsa sangatlah besar. Terlebih jika membicarakan tentang pendidikan, tentu tidak terlepas dari sosok seorang pendidik yang dalam kegiatan kesehariannya adalah mendidik.
Mereka adalah guru, dengan predikat ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang sampai saat ini selalu dibicarakan. Predikat tersebut dulu –dan agak meragukan sekarang— selalu dilekatkan pada seorang guru. Ya, karena tugas seorang guru adalah menyalurkan ilmu kepada siswa-siswanya. Mereka bukan hanya menjadi menyebar pengetahuan, tapi yang terpenting adalah menjadi pendidik. Dan itulah tugas yang sangat mulia.
Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tentu sebagai murid baru dan baru pertama kali mengenyam pendidin formal, ketakutan merambati seluruh tubuh. Namun, peran seorang guru benar-benar hadir sebagai penentram bagi ketakutan itu. Bahkan rasa malu pun berusaha dihilangkan dalam diri setiap murid. Semuanya dengan satu tujuan, agar siswa dapat merasa nyaman berada di dalam kelas. Dengan begitu, setiap siswa akan dengan mudah menyerap ilmu yang diberikan oleh sang guru.
Memang berbagai macam tipe guru memberi-kan kita khazanah dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, ada guru yang mengajar dengan cepat dan dengan retorika yang baik. Gerak tubuhnya pun sangat lincah saat berbicara dan sangat bersemangat. Ada pula guru yang cara mengajarnya lamban, sehingga tak jarang siswa mengantuk dikelas. Ada lagi gaya guru yang mengajarnya selalu diiringi dengan humor. Dan yang paling mencemaskan para siswa adalah guru yang mengajar dengan disiplin yang sangat keras dan kadang menggunakan kekerasan dalam proses pembelajaran.
Berbagai macam tipe guru dalam mengajar tersebut memang memunculkan berbagai reaksi dari para siswa. Ada yang suka, biasa-biasa saja dan ada yang tidak senang pada cara guru tersebut. Akan tetapi yang paling membuat kesal siswa adalah guru yang disiplin dan cenderung menggunakan kekerasan. Saat guru tersebut memasuki ruangan kelas, siswa senantiasa merasa terancam. Sebab mereka harus senantiasa menjaga agar ruangan tetap tenang. Jika tidak, maka hukuman sudah pasti akan menanti. Semua tipe guru tersebut, ternyata memberikan nuansa tersendiri di kemudian hari.
Sungguh peran guru begitu besar. Jika disadari dan dilaksanakan dengan niat yang baik dan tulus, guru merupakan salah satu profesi yang sangat mulia. Keberhasilan generasi mendatang salah satunya berada di tangan para pendidik tersebut.
Guru Memerdekakan Diri
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Guru Independen Indonesia (FGII) tentang Peran Guru dalam Proses Demokratisasi Pendidikan, muncul sebuah persoalan tentang independensi guru. Agar dapat menjadi seorang guru yang profesional, guru harus bisa memerdekakan dirinya sendiri dan membebaskan diri dari hegemoni negara.
Seorang Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Eri Seda mengungkapkan bahwa guru merupakan seorang yang berada dalam posisi terjepit. Akan tetapi di sisi lain guru juga adalah seorang yang memiliki kebebasan. Tentu berbeda dengan seorang pekerja kantoran, ketika berada di dalam kelas guru memiliki otoritas penuh.
Namun yang disayangkan, menurut Eri, ketika guru menjadi perpanjangan birokrasi, maka kompetensi profesional seorang guru menjadi turun. Perpanjangan tangan yang dilakukakan melalui kepala sekolah tidak akan berubah bila hanya figur kepala sekolah itu yang ditangani, tanpa mengubah sistem pendidikan itu sendiri. Sepanjang pendidikan dianggap sebagai perpanjangan dari birokrasi dan sebagai sarana bisnis untuk mencari keuntungan, maka jangan lagi bertanya tentang mutu.
Dan pada posisi itu pula, guru akan tetap berada dalam kungkungan birokrasi dan tak mampu berkreasi. Guru akan selalu disibukkan dengan segala macam persoalan kurikulum yang membebani. Kurikulum memang penting, akan tetapi jika guru terlalu dibebani dengan segala tetek-bengek kurikulum, silabus dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), maka itu akan menghabiskan waktu seorang guru untuk belajar dan menambah pengetahuan, khususnya pengetahuan di luar dari pelajaran yang diajarkannya. Mungkin perlu ada metode lain untuk mengurangi beban guru, sehingga mereka dapat lebih fokus menambah pengetahuan dan perhatiannya pada siswa.
Utomo Dananjaya, salah seorang pengamat pendidikan, juga mengemukakan bahwa guru di Indonesia berada dalam keadaan tidak bisa bergerak tanpa diperintah birokrasi. Problem ini terjadi karena hegomoni negara dalam pendidikan sangat besar dan menentukan. Guru saat ini berada dalam keadaan terjajah dan tidak merdeka. Satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan ini adalah guru memerdekakan dirinya. Menurutnya, sekolah guru memang tidak pernah mengajarkan guru untuk memerdekakan diri. Karena itu, satu-satunya jalan adalah guru memerdekakan dirinya sendiri.
Sesungguhnya kewajiban guru adalah untuk memberikan yang terbaik pada murid-muridnya. Dan murid berhak pula memperoleh yang terbaik dari gurunya. Karenanya, bila guru tidak memberikan yang terbaik, maka guru tidak lagi amanah. Guru tidak mampu lagi menjalankan kewajiban dengan baik. Mereka boleh dikatakan hanya melaksakan profesinya sebagai guru dengan begitu saja. Tetapi mereka tidak mampu lagi menjadi pendidik yang baik. Jika tidak mampu memberika yang terbaik bagi muridnya, mereka tentu bukanlah guru yang mampu memegang amanah.
Kesejahteraan dan Profesionalisme Guru
Memang dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini masih ditemukan beberapa persoalan yang membayangi eksistensi guru. Salah satu hal yang menonjol adalah tingkat kesejahteraan. Selain itu, profesionalisme guru yang masih kurang juga selalu menjadi pertanyaan yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan.
Begitulah yang terjadi sejak lama. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini, kesejahteraan guru telah menjadi prioritas pemerintah. Pemerintah saat ini telah memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Hampir setiap tahun pemerintah terus berusaha menaikkan gaji guru.
Berbagai program dalam kerangka pening-katan kesejahteraan guru pun terus dilakukan oleh pemerintah. Saat ini pemerintah melakukan sertifikasi terhadap guru-guru profesional dengan memberikan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok. Dengan program ini pemerintah berharap kesejahteraan guru semakin meningkat.
Dengan perhatian pemerintah dan berbagai program dalam rangka peningkatan kesejahteraan guru, kita hanya berharap agar para guru senantiasa meningkatkan kualitas dan profe-sionalismenya. Karena disadari atau tidak, peran guru sangat menentukan kemajuan pendidikan sebuah bangsa. Tentu ini sangatlah berarti bagi kemajuan suatu bangsa.
Guru haruslah menyadari peran pentingnya dalam membangun bangsa. Kita berharap peningkatan kesejahteraan guru melalui berbagai program dapat diseimbangkan dengan kualitas dan profesionalisme. Guru sekarang memang tidak sama dengan guru dulu, baik dari segi tingkat kesulitan, maupun tantangan yang dihadapi. Demikian pula dengan tingkat kesejahteraanya.
Oleh karenanya, profesionalisme seorang guru haruslah tetap dikedepankan. Sebab di tangan gurulah, masa depan generasi muda bangsa ini dipertaruhkan.
Memuliakan Peran Guru
Setiap memperingati hari guru, setiap itu pula saya tidak bisa menemukan sebuah penghayatan tentang pentingnya seorang guru dalam kehiduapan. Semuanya hanya dilaksanakan sebatas seremonial. Dan setelah itu, tawa dan canda pun berderai sepanjang jalan.
Guru-guru sepertinya tidak begitu menyadari bahwa peringatan tentang keberadaan mereka begitu penting. Negara memperingati hari guru tentu bukan tanpa alasan. Akan tetapi semuanya diperingati dengan landasan berpikir kuat dan berlatar sejarah yang panjang dan heroik.
Akan tetapi, kenapa guru tidak mampu meresapinya. Semua hanya dipandang sebatas seremonial yang hanya membutuhkan seragam dan upacara bendera. Ataukah mereka memang tidak begitu menyadari betapa pentingnya perjuangan yang mereka lakukan selama ini. Atau bisa saja mereka hanya menganggapnya biasa-biasa saja, karena untuk mendapatkan dan melakoni hari-hari sebagai guru tidaklah begitu sulit.
Lantas bagaimana orang lain, atau murid bisa menghargai peran guru, jika guru sendiri tidak menghargai peran yang mereka lakukan?
Ya, mungkin lain halnya dengan para veteran. Jika peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau Hari Pahlawan, mereka yang benar-benar terlibat dalam peperangan akan meneteskan air mata. Paling tidak kesedihan nampak jelas di wajah-wajah berkerut mereka.
Saya yakin mereka kembali mengenang masa-masa sulit yang pernah mereka lalui. Atau mungkin saja, mereka membayangkan penderitaan yang mereka alami semasa perang. Mungkin juga mereka telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai karena perang.
Tapi, apakah seorang veteran yang menjadi veteran hanya karena berdasarkan selembar surat keterangan veteran, akan dapat juga merasakan hal yang sama? Tentu begitu sulit. Kalau pun mereka meneteskan air mata atau menunjukkan kesedihan, itu karena ia membayangkan orang yang mereka gantikan sebagai veteran dalam surat keterangan tersebut. Entah itu, orang tua, saudara, keluarga ataupun orang lain yang telah tertipu.
Disinilah tentu perbedaan guru yang benar-benar mengabdikan diri untuk mencerdaskan peserta didiknya, dengan guru yang hanya sekedar mengajar karena label guru yang disandangnya karena selembar kertas. Mereka berada pada tingkat kesadaran yang berbeda tentang hakikat keberadaan sebagai seorang guru. Karena itulah mungkin mereka tidak mampu meresapi apa arti keberadaan mereka.
Tapi bagaimana pun itu, saya tetap berharap kita senantiasa dapat bersama-sama memuliakan tugas dan peran seorang guru. Karena, disadari atau tidak, mereka telah mengajarkan kita bagaimana mengenal pengetahuan sejak kecil, hingga kita mampu menjadi orang sukses. Begitu sulit rasanya menjadi pintar tanpa adanya bimbingan dari guru. Bahkan kita tidak bisa memiliki akhlak yang baik tanpa peran seorang guru.
Begitu besar jasa para guru dalam mem-bangun bangsa. Tentu ini harus disadari dengan memberikan sebentuk penghargaan akan pentingnya keberadaan guru dalam kehidupan kita. Apa yang telah diberikan oleh guru kepada kita mungkin tak ternilai harganya dibanding dengan uang yang kita berikan.
Karenanya, dilema guru seharusnya merupakan dilema bangsa. Satu lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menata masa depan anak bangsa yang lebih baik adalah menjadikan kesejahteraan guru, sebanding dengan kualitas dan profesionalisme guru. Sebab keberadaan guru bukanlah hanya sekedar fisik, akan tetapi mereka telah menjadi bagian dari spirit republik ini.
Guru adalah sumber inspirasi. Oase bagi setiap orang dalam mengarungi kehidupan. Mereka adalah penerang dalam gulita. Dan untuk itu, kita wajib memuliakannya.


